![]() |
| Sumber : Instagram RISTEKDIKTI |
10 Desember 1948, United Nations (UN) alias Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) resmi mendeklarasikan tanggal tersebut sebagai Hari Hak Asasi Manusia Sedunia atau International Human Right Day. Minggu (10/12), tak sedikit masyarakat yang juga memperingati hari tersebut. Namun apakah pemaknaan Hari HAM Sedunia juga turut dirasakan oleh warga Rohingya Myanmar, Aleppo Syria, atau Gaza Palestina? Ini yang kemudian menjadi pertanyaan dari sejumlah mahasiswa. Sehingga tak sedikit pro-kontra yang ditimbulkan.
Salah satunya adalah mahasiswa asal Universitas Multimedia Nusantara (UMN), bernama Gilar Febrizio. Menurutnya, pemaknaan Hari HAM Sedunia bukan sekadar dari lisan, melainkan juga aksi alias tindakan. “Menurut saya, 10 Desember hanya terlihat sebagai momentum peringatan bahwa di tanggal yang sama, tahun 1948 terjadi peristiwa deklarasi oleh PBB. Sudah, itu saja. Selebihnya, kita belum benar-benar merayakan hari tersebut. Namun hanya sekadar memperingatinya,” tuturnya. Dirinya berujar, penegakkan HAM yang masih tumpang tindih di beberapa negara, menyulitkan ia dan beberapa temannya yang lain dalam memaknai hari tersebut. Kendati demikian Gilar menambahkan, bentuk apresiasi sederhana dari pemaknaan Hari HAM Sedunia adalah salah satunya dengan tidak membungkam pendapat orang lain. “Karena memang kebebasan berekspresi turut dijamin dalam perlindungan HAM,” pungkasnya.
Sementara itu di lain persepsi, mahasiswi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom), jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), bernama Riza Faradillah beranggapan, Hari HAM Sedunia merupakan bentuk awareness dari warga dunia akan adanya hak-hak mendasar yang telah dimiliki manusia sejak lahir. Bagi Riza, hal ini sudah patut diapresiasi. Namun ia juga tak menampik akan adanya implementasi yang perlu ditunjukkan, berbarengan dengan pemaknaan Hari HAM itu sendiri. “Bagi saya, sebenarnya dengan adanya Hari HAM Sedunia itu sudah sangat baik, sebab itu merupakan sebuah pengakuan terhadap hak-hak yang kita miliki. Tetapi saya berharap, pengakuan tersebut benar-benar direalisasikan di kehidupan nyata. Sehingga tidak ada lagi manusia yang merasa haknya dirampas,” tutupnya.

Komentar
Posting Komentar