| Area sekitar Waduk Brigif Foto Oleh : Adnan Toyib |
Cipedak, Kamis
(2/11/2017). Mangkraknya proyek pembangunan waduk Brigif yang sudah dicanangkan
Pemprov DKI Jakarta era kepemimpinan Joko Widodo kini hanya menjadi kubangan semata. Proyek yang ditargetkan rampung pada tahun
ini, membuat warga yang pemukimannya
dikabarkan akan terkena gusuran merasa resah. Pasalnya hingga saat ini tiada
kejelasan lagi dari Dinas Tata Air soal pembangunan proyek tersebut.
Saat diwawancarai, Agung ketua RT
016 setempat memaparkan bahwa “pembangunan
proyek tersebut telah lama berhenti. Alat-alat berat yang mulanya beroperasi
pun kini sudah tidak ada”.
Agung menambahkan faktor dari mangkraknya pembangunan
proyek ini adalah tidak sesuainya uang ganti rugi untuk pembebasan lahan yang
diajukan oleh Dinas Tata Air. Faktor lainnya yaitu tidak adanya kepastian dari
dinas soal kapan akan melanjutkan lagi pembangunan proyek tersebut.
Agung
menambahkan, “untuk persoalan kapan selesainya sudah tidak dapat dipastikan.
Proyek macet semua tidak berjalan, pembangunannya juga sudah melalui waktu
tenggat yang digemborkan oleh pemerintah”.
Pada
mulanya warga setempat setuju dam mendukung pembangunan waduk, karena kawasan
ini sangat sesuai apabila dijadikan tempat resapan air untuk mengurangi
terjadinya banjir tatkala musim penghujan datang. Fakta yang terjadi sangat
berbeda dengan espetasi warga. Sudah
berkali-kali warga mengadakan aju banding soal ganti rugi dengan pihak Dinas
Tata Air yang dilaksanakan di gedung kelurahan, akan tetapi hasil yang keluar
tidak sesuai dengan rata-rata harga tanah yang berlaku di kawasan ini. Alhasil
banyak dari warga yang masih mempertahankan rumah-rumah mereka. Namun,
Sejauh ini di RT 016 tercatat sudah ada 6 rumah warga yang dibayar ganti rugi.
Warga setempat
bernama Rohim yang telah mendapatkan uang ganti rugi menuturkan “Rumah saya
telah dibayar oleh dinas, tapi harga yang saya dapat tidak sesuai dengan diawal
kesepakatan. Pertama kali mengajukan banding, harapan saya dinas akan memberikan
harga yang sesuai tapi makin lama harga yang diajukan dinas semakin menurun.
Walaupun harga melenceng tetap saya lepas”. Meskipun demikian dirinya mengaku telah
membeli tanah di kawasan lain.
Kondisi waduk tersebut kini amat memprihatinkan, tampak
permukaan air waduk telah dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan. Bedeng
yang semulanya ditempatkan oleh pekerja proyek pun telah kosong dan ditumbuhi
ilalang. Pada bagian
pinggiran waduk telah dipasangkan pagar pembatas oleh dinas.
Pagar pembatas tersebut dipasang
untuk memisahkan antara lahan yang telah dibayar dengan yang belum. Hal itu juga dilakukan agar tidak ada masyarakat
yang memanfaatkan lahan kosong yang telah dibayar pemerintah.
Hal tersebut
senada dengan apa yang diucapkan oleh Agung, ia mengatakan “telah lama
pagar-pagar pembatas itu berdiri. Pagar itu melingkari lahan yang telah bebas
saja. Beberapa warga terkadang juga memanfaatkan waduk tersebut seperti halnya
untuk memancing. Namun semenjak diberikan pagar dan papan peringatan sudah
jarang warga yang melakukan aktifitas di waduk yang mangkrak itu.”
Komentar
Posting Komentar