1. GLOBALISASI MENGUBAH KEBIASAAN KOMUNIKASI DI TEMPAT KERJA
Sebagai dampak dari perkembangan modernisasi sosial dan teknologi, globalisasi telah memainkan peranan penting dalam mengubah tata cara dan gaya manusia dalam berkomunikasi. Ada dua cara bagaimana globalisasi memengaruhi komunikasi khususnya di lingkup pekerjaan. Cara itu dapat terjadi secara langsung (keberagaman sosial) dan secara tidak langsung (perantara media).
Era globalisasi yang menandakan universalitas, lingkungan kerja merupakan tempat yang memungkinkan terjadinya keberagaman sosial di mana perbedaan agama, bahasa, budaya, gender, ras, etnis, dan adat istiadat dapat ditemukan. Pekerja dituntut untuk memahami dan beradaptasi dengan keberagaman yang ada. Situasi ini mendorong pekerja mengubah tata cara dan gaya komunikasi mereka agar dapat mempertahankan eksistensi sosialnya di lingkungan kerja.
Selain itu, peran media komunikasi memberikan dampak secara tidak langsung. Hadirnya media komunikasi terbarukan mempercepat pekerja dalam memperluas akses ke media dan keterbukaan informasi. Kecepatan media komunikasi terbarukan dapat melewati lintas jarak dan waktu. Dengan demikian pekerja bisa saling terhubung dan berbagi informasi dari berbagai sumber dari belahan dunia mana pun. Akibatnya pekerja harus mampu mengubah kebiasaan komunikasi mereka menyesuaikan dengan media yang ada secara aktif dan progresif.
Dalam sebuah jurnal penelitiannya (Firza et al.,2023) menyebutkan bahwa di era globalisasi ini dalam berkomunikasi mengurangi hambatan budaya menjadi tantangan. Bagaimana orang yang saling berbicara, sikap, dan perilaku semua itu dapat ditanggapi secara berbeda oleh orang yang budayanya berbeda. Komunikasi di era globalisasi ini pada dasarnya menjadikan manusia memanfaatkan teknologi yang telah berkembang dengan sebaik-baiknya. Perkembangan teknologi komunikasi ini menjadikan manusia dapat berkomunikasi secara online (dalam jaringan).
2. TANGGUNG JAWAB ETIS DALAM KOMUNIKASI
Secara bahasa etika berasal dari kata bahasa Yunani “ethos”. Dalam ilmu filsafat etika berarti ilmu mengenai tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (Muhamad, 2009:173). Menurut L.J. van Apeldoorn (2004), etika merupakan perilaku seseorang yang didasarkan atas pengalaman mereka terhadap agama, moral, hukum, dan kesusilaan (Hafied, 2023:11). Dari pengertian di atas, menurut pandangan penulis etika dapat diartikan sebagai pengetahuan dan penerapan norma yang berlaku di masyarakat mengenai hal yang baik dan buruk.
Komunikasi sebagai komponen utama dalam kehidupan sosial tidak akan lepas dari pengaruh etika. Etika dalam berkomunikasi sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman antara komunikator dengan komunikan. Seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan komunikasi yang baik apabila ia mampu menyampaikan pesan dengan baik secara etis, membuat lawan bicaranya memahami isi pesan, mendapatkan feedback, dan bertanggung jawab atas pesan apa yang disampaikan.
Tanggung jawab etis dalam komunikasi berarti kita memiliki kewajiban untuk berkomunikasi secara jujur, adil, dan bertanggung jawab. Dengan majunya dunia teknologi sekarang ini, kita dituntut untuk paham etika dan tanggung jawab dalam berkomunikasi. Dalam situasi konflik, tanggung jawab etis dalam komunikasi dapat membantu kita mengatasi masalah dengan cara yang membangun, menghindari konflik yang lebih besar, dan mempertahankan hubungan baik dengan orang lain (Indriastuti, 2019).
Mengedepankan tanggung jawab etis berarti ketika melakukan proses komunikasi setiap orang harus menyadari dampak dari pesan yang disampaikan. Memahami norma dan nilai yang berlaku di masyarakat menjadi poin penting, seperti contohnya menggunakan kata yang sopan dan santun, menghindari menggunakan nada tinggi, menjaga dan memahami perasaan lawan bicara. Dengan demikian iklim komunikasi yang baik akan terwujud apabila tanggung jawab etis dikedepankan.
Komentar
Posting Komentar